Kamis, 21 November 2013

Berpautlah pada Ibadat Sejati--natal.


 
Apa yang Alkitab ajarkan tentang pemujaan patung dan leluhur?

Apa pandangan orang Kristen mengenai hari raya agama?

Bagaimana caranya menjelaskan kepercayaan Anda tanpa menyinggung perasaan orang?

KATAKANLAH Anda baru saja tahu bahwa seluruh lingkungan tempat tinggal Anda telah tercemar. Seseorang diam-diam telah membuang limbah beracun di daerah itu, dan sekarang kehidupan semua orang terancam bahaya. Apa yang akan Anda lakukan? Sebisa mungkin, Anda tentu akan pindah dari sana. Tetapi, setelah itu, Anda masih dihantui pertanyaan penting, ’Apakah saya sudah terkena racun?’

2 Demikian pula keadaannya dengan agama palsu. Alkitab mengajarkan bahwa agama seperti itu sudah tercemar dengan ajaran dan cara beribadat yang najis. (2 Korintus 6:17) Itulah sebabnya mengapa begitu penting untuk keluar dari ”Babilon Besar”, imperium agama palsu sedunia. (Penyingkapan 18:2, 4) Sudahkah Anda melakukannya? Jika sudah, Anda patut dipuji. Tetapi, ada lagi yang dituntut selain memutuskan hubungan dengan agama palsu. Anda selanjutnya harus bertanya kepada diri sendiri, ’Apakah masih ada sisa-sisa agama palsu yang mencemari diri saya?’ Pertimbangkan beberapa contoh.


PEMUJAAN PATUNG DAN LELUHUR

3 Ada yang sudah bertahun-tahun memiliki patung atau tempat pemujaan di rumah mereka. Apakah Anda juga? Jika ya, Anda mungkin merasa janggal atau salah untuk berdoa kepada Allah tanpa menggunakan sesuatu yang kelihatan sebagai alat bantu. Anda mungkin bahkan menyayangi benda-benda itu. Tetapi, Allah-lah yang menentukan cara beribadat kepada-Nya, dan Alkitab mengajarkan bahwa Ia tidak ingin kita menggunakan patung. (Keluaran 20:4, 5; Mazmur 115:4-8; Yesaya 42:8; 1 Yohanes 5:21) Jadi, Anda dapat berpaut pada ibadat sejati dengan memusnahkan benda apa pun yang Anda miliki yang berkaitan dengan ibadat palsu. Tanpa ragu-ragu, pandanglah benda-benda itu seperti Yehuwa memandangnya—sebagai sesuatu yang ”memuakkan”.—Ulangan 27:15.

4 Pemujaan leluhur juga umum dalam banyak agama palsu. Sebelum belajar kebenaran Alkitab, ada yang percaya bahwa orang mati masih hidup di suatu alam gaib dan bahwa mereka dapat membantu atau mencelakakan orang yang hidup. Mungkin Anda pernah bersusah payah menenangkan leluhur Anda yang sudah meninggal. Tetapi, seperti yang Anda pelajari di Pasal 6 buku ini, orang mati tidak sadar dan tidak hidup di tempat lain. Jadi, upaya untuk berkomunikasi dengan mereka tidak ada gunanya. Pesan apa pun yang tampaknya berasal dari orang tercinta yang telah meninggal sebenarnya berasal dari hantu-hantu. Karena itu, Yehuwa melarang orang Israel untuk mencoba berbicara dengan orang mati atau terlibat dengan semua bentuk spiritisme.—Ulangan 18:10-12.

5 Jika Anda dahulu beribadat dengan menggunakan patung atau memuja leluhur, apa yang dapat Anda lakukan? Baca dan renungkanlah ayat-ayat Alkitab yang menunjukkan pandangan Allah terhadap hal-hal itu. Berdoalah kepada Yehuwa setiap hari tentang keinginan Anda untuk berpaut pada ibadat sejati, dan mintalah bantuan-Nya agar Anda dapat memiliki pandangan yang sama dengan-Nya.—Yesaya 55:9.

NATAL—TIDAK DIRAYAKAN OLEH ORANG KRISTEN MASA AWAL

6 Ibadat seseorang dapat dicemari oleh agama palsu dalam hal hari-hari raya umum. Contohnya Natal, yang konon dimaksudkan untuk memperingati kelahiran Yesus Kristus. Hampir setiap agama yang mengaku Kristen merayakannya. Tetapi, tidak ada bukti bahwa murid-murid Yesus pada abad pertama merayakannya. Buku Sacred Origins of Profound Things (Asal Usul Sakral dari Hal-Hal yang Bermakna Dalam) menyatakan, ”Selama dua abad setelah lahirnya Kristus, tidak seorang pun tahu, dan hanya sedikit yang peduli, kapan persisnya ia lahir.”

7 Seandainya murid-murid Yesus tahu persis tanggal lahirnya, mereka pun tidak akan merayakannya. Mengapa? Karena, seperti dikatakan The World Book Encyclopedia, orang Kristen masa awal ”menganggap perayaan kelahiran sebagai kebiasaan kafir”. Alkitab hanya menyebutkan dua perayaan hari lahir, yaitu yang diadakan oleh dua penguasa yang tidak menyembah Yehuwa. (Kejadian 40:20; Markus 6:21) Perayaan hari lahir juga diadakan untuk menghormati dewa-dewi orang kafir. Misalnya, pada tanggal 24 Mei orang Romawi merayakan hari lahir dewi Diana. Keesokan harinya, mereka memperingati hari lahir dewa matahari mereka, Apolo. Jadi, perayaan hari lahir dikaitkan dengan kekafiran, bukan dengan Kekristenan.

8 Ada alasan lain mengapa orang Kristen abad pertama tidak akan merayakan hari lahir Yesus. Murid-muridnya kemungkinan besar tahu bahwa perayaan hari lahir ada hubungannya dengan takhayul. Misalnya, banyak orang Yunani dan Romawi zaman dahulu percaya bahwa ada suatu roh yang hadir pada saat kelahiran setiap orang dan yang melindungi orang tersebut sepanjang hidupnya. ”Roh itu mempunyai hubungan gaib dengan dewa yang hari kelahirannya sama dengan orang tersebut,” kata buku The Lore of Birthdays (Kepercayaan Tradisional tentang Hari Lahir). Yehuwa pasti tidak senang dengan perayaan apa pun yang mengaitkan Yesus dengan takhayul. (Yesaya 65:11, 12) Jadi, mengapa begitu banyak orang merayakan Natal?

ASAL USUL NATAL

9 Beberapa ratus tahun setelah Yesus hidup di bumi, barulah orang mulai memperingati kelahirannya pada tanggal 25 Desember. Tetapi, itu bukan tanggal Yesus lahir, sebab ia ternyata lahir pada bulan Oktober. Maka, mengapa tanggal 25 Desember yang dipilih? Beberapa orang yang belakangan mengaku Kristen kemungkinan besar ”ingin agar tanggalnya bertepatan dengan perayaan kafir Romawi untuk memperingati ’hari lahir matahari yang tak tertaklukkan’”. (The New Encyclopædia Britannica) Pada musim dingin, sewaktu sinar matahari tampak paling redup, orang kafir mengadakan upacara supaya sumber panas dan cahaya ini kembali dari perjalanannya yang jauh. Tanggal 25 Desember dianggap sebagai hari ketika matahari memulai perjalanannya kembali. Dalam upaya untuk menobatkan orang kafir, para pemimpin agama memasukkan perayaan ini ke dalam ibadat mereka dan mencoba membuatnya berbau ”Kristen”.

10 Orang sudah lama mengakui bahwa Natal bersumber dari kekafiran, bukan dari Alkitab. Karena itu, Natal dilarang di Inggris dan di beberapa koloni Amerika pada abad ke-17. Bahkan siapa pun yang tinggal di rumah dan tidak bekerja pada hari Natal harus membayar denda. Tetapi, tidak lama kemudian kebiasaan umum itu menjadi populer lagi, dan beberapa kebiasaan lain ditambahkan. Natal sekali lagi menjadi hari raya yang penting, bahkan sampai sekarang di banyak negeri. Tetapi, karena Natal ada hubungannya dengan agama palsu, orang yang ingin menyenangkan Allah tidak merayakannya, juga hari raya lain mana pun yang bersumber dari ibadat orang kafir.

APAKAH ASAL USUL HARI RAYA BENAR-BENAR PENTING?

11 Ada orang yang setuju bahwa hari raya seperti Natal berasal dari kekafiran tetapi merasa bahwa tidaklah salah untuk merayakannya. Faktanya, sewaktu merayakan hari-hari raya, kebanyakan orang tidak memikirkan atau menghubungkannya dengan ibadat palsu. Saat-saat seperti itu juga merupakan kesempatan bagi keluarga untuk berkumpul. Apakah Anda juga merasa begitu? Jika ya, kemungkinan besar, kasih kepada keluargalah yang membuat Anda sulit berpaut pada ibadat sejati, bukan kasih kepada agama palsu. Yakinlah bahwa Yehuwa, Pribadi yang menjadi pemula keluarga, ingin agar Anda mempunyai hubungan yang baik dengan sanak keluarga Anda. (Efesus 3:14, 15) Anda dapat menguatkan ikatan keluarga dengan cara yang Allah perkenan. Rasul Paulus menulis tentang apa yang seharusnya paling penting bagi kita, ”Teruslah pastikan apa yang diperkenan Tuan.”—Efesus 5:10.

12 Mungkin Anda merasa bahwa asal usul hari-hari raya itu hampir tidak ada kaitannya dengan apa yang dirayakan sekarang. Apakah asal usul benar-benar penting? Ya! Sebagai gambaran: Katakanlah Anda melihat ada permen loli di selokan. Apakah Anda akan mengambil permen itu dan memakannya? Tentu tidak, bukan? Permen itu kotor. Seperti permen itu, hari-hari raya mungkin kelihatannya menyenangkan, tetapi diambil atau berasal dari tempat-tempat yang najis. Untuk berpaut pada ibadat sejati, kita harus memiliki pandangan yang sama dengan nabi Yesaya, yang memberi tahu para penganut ibadat sejati, ”Jangan menyentuh apa pun yang najis.”—Yesaya 52:11.

BIJAKSANA TERHADAP ORANG LAIN

13 Kesulitan mungkin timbul sewaktu Anda memutuskan untuk tidak ikut merayakan hari-hari raya. Misalnya, rekan sekerja mungkin heran mengapa Anda tidak mengikuti kegiatan hari raya tertentu di tempat kerja. Bagaimana jika Anda diberi hadiah Natal? Apakah salah untuk menerimanya? Bagaimana jika teman hidup Anda berbeda kepercayaan? Apa yang dapat Anda lakukan agar anak-anak Anda tidak merasa kesenangannya terampas karena tidak merayakan hari-hari raya?

14 Dibutuhkan pertimbangan yang baik untuk menentukan cara menangani setiap situasi. Jika ucapan selamat hari raya disampaikan secara sambil lalu, Anda cukup mengucapkan terima kasih. Tetapi, bagaimana seandainya yang mengucapkan itu adalah orang yang sering Anda temui atau rekan sekerja? Jika demikian, Anda bisa saja memberikan penjelasan. Dalam segala situasi, Anda harus bijaksana. Alkitab menasihatkan, ”Hendaklah ucapanmu selalu menyenangkan, dibumbui dengan garam, sehingga kamu mengetahui bagaimana seharusnya memberikan jawaban kepada setiap orang.” (Kolose 4:6) Berhati-hatilah, jangan sampai kita menunjukkan sikap tidak respek. Sebaliknya, dengan bijaksana jelaskan pendirian Anda. Terangkan bahwa Anda bukannya tidak senang bertukar hadiah dan berkumpul bersama mereka tetapi bahwa Anda lebih senang melakukannya pada kesempatan lain, bukan pada hari raya.

15 Bagaimana jika seseorang ingin memberikan hadiah kepada Anda? Hal itu banyak bergantung pada keadaan. Si pemberi mungkin mengatakan, ”Saya tahu Anda tidak merayakan hari raya ini. Tetapi, saya ingin Anda menerima hadiah ini.” Anda mungkin menilai bahwa dalam hal itu, menerima hadiah tidak sama dengan ikut merayakan hari raya tersebut. Jika si pemberi tidak tahu kepercayaan Anda, Anda tentu dapat mengatakan bahwa Anda tidak merayakan hari raya itu. Ini akan membantunya mengerti alasan Anda mau menerima hadiahnya tetapi tidak memberikan hadiah sebagai balasan pada kesempatan itu. Tetapi, Anda sebaiknya tidak menerima hadiah yang jelas-jelas diberikan dengan niat untuk menunjukkan bahwa Anda tidak berpaut pada kepercayaan Anda atau bahwa Anda akan berkompromi demi keuntungan materi.

BAGAIMANA DENGAN ANGGOTA KELUARGA?

16 Bagaimana jika anggota keluarga Anda berbeda kepercayaan? Sekali lagi, hendaklah bijaksana. Anda tidak perlu mempermasalahkan setiap tradisi atau perayaan yang dirayakan sanak keluarga Anda. Sebaliknya, hormati hak mereka untuk memiliki pandangan mereka sendiri, sama seperti Anda ingin mereka menghormati hak Anda. (Matius 7:12) Hindari tindakan apa pun yang sebenarnya sama saja dengan ikut merayakan hari raya. Namun, bersikaplah masuk akal dalam hal-hal yang tidak berkaitan langsung dengan perayaan itu. Tentu, jangan sampai tindakan Anda membuat hati nurani Anda terganggu.—1 Timotius 1:18, 19.

17 Apa yang dapat Anda lakukan agar anak-anak Anda tidak merasa kesenangannya terampas karena tidak merayakan hari-hari raya yang tidak selaras dengan Alkitab? Hal itu banyak bergantung pada apa yang Anda lakukan pada waktu-waktu lain sepanjang tahun. Ada orang tua yang menentukan waktu-waktu tertentu untuk memberikan hadiah kepada anak-anak mereka. Salah satu hadiah terbaik yang dapat Anda berikan kepada anak-anak ialah waktu dan perhatian Anda yang pengasih.

MENJALANKAN IBADAT SEJATI

18 Untuk menyenangkan Allah, Anda harus menolak ibadat palsu dan berpaut pada ibadat sejati. Apa yang tercakup di dalamnya? Alkitab menyatakan, ”Biarlah kita memperhatikan satu sama lain untuk saling menggerakkan kepada kasih dan perbuatan yang baik, dengan tidak mengabaikan pertemuan kita, sebagaimana kebiasaan beberapa orang, tetapi saling menganjurkan, dan terlebih lagi demikian seraya kamu melihat hari itu mendekat.” (Ibrani 10:24, 25) Pertemuan-pertemuan Kristen merupakan saat-saat yang membahagiakan karena di sanalah Anda dapat beribadat kepada Allah dengan cara yang Ia perkenan. (Mazmur 22:22; 122:1) Pada pertemuan-pertemuan seperti itu, ”ada pertukaran anjuran” di antara orang-orang Kristen yang setia.—Roma 1:12.

19 Cara lain untuk berpaut pada ibadat sejati ialah dengan berbicara kepada orang-orang tentang hal-hal yang telah Anda pelajari dari Alkitab bersama Saksi-Saksi Yehuwa. Banyak orang benar-benar ”berkeluh kesah dan mengerang” karena kefasikan yang terjadi di dunia dewasa ini. (Yehezkiel 9:4) Mungkin Anda mengenal orang-orang seperti itu. Cobalah berbicara kepada mereka tentang harapan Anda untuk masa depan, yang berdasarkan Alkitab. Seraya Anda bergaul dengan orang-orang Kristen sejati dan berbicara kepada orang-orang tentang kebenaran Alkitab yang menakjubkan yang telah Anda pelajari, lambat laun kerinduan kepada tradisi agama palsu yang mungkin masih tersisa dalam hati Anda akan sirna. Yakinlah bahwa Anda akan sangat bahagia dan akan mendapat banyak berkat jika Anda berpaut pada ibadat sejati.—Maleakhi 3:10.

[Catatan Kaki]

Lihat Apendiks, halaman 221-2.

Perayaan Saturnalia juga menjadi faktor dalam pemilihan tanggal 25 Desember. Perayaan yang menghormati dewa pertanian Romawi ini diadakan pada tanggal 17-24 Desember. Pada perayaan itu, orang-orang berpesta-pora, bersukaria, dan saling memberikan hadiah.

Untuk pembahasan tentang pandangan orang Kristen sejati terhadap hari-hari raya umum lainnya, lihat Apendiks, halaman 222-3.

APA YANG ALKITAB AJARKAN

▪ Pemujaan patung dan leluhur dilarang dalam ibadat sejati.—Keluaran 20:4, 5; Ulangan 18:10-12.

▪ Ikut merayakan perayaan yang bersumber dari kekafiran adalah salah.—Efesus 5:10.

▪ Orang Kristen sejati harus bijaksana sewaktu menjelaskan kepercayaan mereka kepada orang lain.—Kolose 4:6.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar