Tampilkan postingan dengan label Ketika Manusia Diam Bersama Allah di Firdaus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ketika Manusia Diam Bersama Allah di Firdaus. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 November 2013

Ketika Manusia Diam Bersama Allah di Firdaus


 

PERNAHKAH kita memikirkan apa artinya istilah ”TUHAN, yang menciptakan langit”, dan juga, ”Allah, yang menciptakan segala sesuatu”? Istilah2 itu berarti bahwa pernah ada suatu waktu manakala Allah hanya seorang diri. (Yesaya 42:5; Efesus 3:9) Tidak ada suatu barang ciptaan. Jadi selama jangka waktu panjang di masa lampau Allah hanya seorang diri dan Ia belum menjadi seorang Pencipta. Itu sebabnya nabi Musa berkata kepada Allah dalam doanya: ”Sebelum gunung2 dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari se-lama2nya sampai se-lama2nya Engkaulah Allah.” (Mazmur 90:2) Selama jangka waktu yang panjang sebelum Ia menciptakan sesuatu, Allah tetap merasa senang.

2 Kemudian datanglah saat ketika Allah berkehendak menjadi seorang Bapa. Bukan untuk menjadi Pencipta barang2 yang tak bernyawa atau tak berakal. Maksud Allah adalah untuk menciptakan makhluk2 yang cerdas, anak2 yang serupa dengan Dia sebagai Bapa mereka. Jadi Ia berkehendak untuk memikul tanggung-jawab dari satu keluarga. Anak2 macam apakah yang Ia hendak ciptakan pada mulanya? Bukan anak2 manusiawi, karena ini berarti Ia mesti membuat sebuah bola bumi lebih dulu supaya mereka dapat tinggal di sana. Sepatutnya Allah membuat anak2 yang seperti Dirinya, yakni surgawi dan roh, karena Ia sendiri adalah roh. Maka anak2 itu adalah anak2 rohani, yang dapat memandang Dia dan dapat menghadap kepadaNya dan Iapun dapat berkomunikasi secara langsung.