PERNAHKAH kita memikirkan apa artinya istilah ”TUHAN, yang
menciptakan langit”, dan juga, ”Allah, yang menciptakan segala sesuatu”?
Istilah2 itu berarti bahwa pernah ada suatu waktu manakala Allah hanya seorang
diri. (Yesaya 42:5; Efesus 3:9) Tidak ada suatu barang ciptaan. Jadi selama
jangka waktu panjang di masa lampau Allah hanya seorang diri dan Ia belum
menjadi seorang Pencipta. Itu sebabnya nabi Musa berkata kepada Allah dalam
doanya: ”Sebelum gunung2 dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan
dari se-lama2nya sampai se-lama2nya Engkaulah Allah.” (Mazmur 90:2) Selama
jangka waktu yang panjang sebelum Ia menciptakan sesuatu, Allah tetap merasa
senang.
2 Kemudian datanglah saat ketika Allah
berkehendak menjadi seorang Bapa. Bukan untuk menjadi Pencipta barang2 yang tak
bernyawa atau tak berakal. Maksud Allah adalah untuk menciptakan makhluk2 yang
cerdas, anak2 yang serupa dengan Dia sebagai Bapa mereka. Jadi Ia berkehendak
untuk memikul tanggung-jawab dari satu keluarga. Anak2 macam apakah yang Ia
hendak ciptakan pada mulanya? Bukan anak2 manusiawi, karena ini berarti Ia
mesti membuat sebuah bola bumi lebih dulu supaya mereka dapat tinggal di sana.
Sepatutnya Allah membuat anak2 yang seperti Dirinya, yakni surgawi dan roh,
karena Ia sendiri adalah roh. Maka anak2 itu adalah anak2 rohani, yang dapat
memandang Dia dan dapat menghadap kepadaNya dan Iapun dapat berkomunikasi secara
langsung.