Halaman

Minggu, 29 Desember 2013

HIKMAT

 


Makna hikmat dalam Alkitab menandaskan pertimbangan yang masuk akal, berdasarkan pengetahuan dan pengertian; kesanggupan menggunakan pengetahuan dan pengertian dengan sukses untuk memecahkan masalah, menghindari bahaya, mencapai tujuan-tujuan tertentu, atau menasihati orang lain dalam hal-hal itu. Hikmat berlawanan dan sering dikontraskan dengan kebebalan, kebodohan, dan kegilaan.—Ul 32:6; Ams 11:29; Pkh 6:8.

Kata dasar yang mengandung arti hikmat dalam bahasa Ibrani adalah khokh·mah (kata kerja, kha·kham), dan dalam bahasa Yunani adalah so·fia, disertai bentuk-bentuk lainnya yang terkait. Dan juga, ada kata Ibrani tu·syi·yah, yang bisa diterjemahkan ”pekerjaan yang membawa hasil baik” atau ”hikmat yang praktis”, dan kata Yunani froni·mos dan frone·sis (dari fren, ”pikiran”), yang berkaitan dengan ”akal sehat”, ”kebijaksanaan”, atau ”hikmat yang praktis”.

Hikmat menyiratkan luasnya pengetahuan dan dalamnya pengertian, kedua-duanya menghasilkan pertimbangan yang masuk akal dan jelas, yang menjadi ciri hikmat. Orang berhikmat ”menyimpan pengetahuan bagaikan harta”, memiliki tabungan pengetahuan untuk digunakan jika dibutuhkan. (Ams 10:14) Meskipun ”hikmat adalah hal pokok”, nasihat yang diberikan ialah ”dengan semua yang engkau dapatkan, dapatkanlah pengertian”. (Ams 4:5-7) Pengertian (istilah yang luas maknanya, yang sering kali mencakup daya pengamatan) menambah kekuatan kepada hikmat, banyak menambah kebijaksanaan dan kesanggupan untuk melihat ke depan, yang juga merupakan ciri-ciri penting hikmat. Kebijaksanaan menyiratkan kearifan dan bisa dinyatakan dalam tindakan yang hati-hati, pengendalian diri, kesahajaan, atau pengekangan. ”Pria yang bijaksana [bentukan dari froni·mos]” membangun rumahnya di atas batu, karena telah mengantisipasi badai; pria yang bodoh membangun rumahnya di atas pasir dan menderita malapetaka.—Mat 7:24-27.



Pengertian membentengi hikmat dengan cara-cara lain. Misalnya, seseorang bisa jadi menaati perintah tertentu dari Allah karena ia sadar bahwa ketaatan demikian adalah hal yang benar, dan dalam hal ini ia memperlihatkan hikmat. Namun, jika ia benar-benar mengerti alasan yang mendasari perintah itu, maksud baik di baliknya, dan manfaat yang dihasilkannya, tekad hatinya untuk terus berjalan pada haluan hikmat tersebut akan sangat dikuatkan. (Ams 14:33) Amsal 21:11 mengatakan bahwa ”dengan memberikan pemahaman kepada orang berhikmat, seseorang memperoleh pengetahuan”. Orang yang berhikmat senang memperoleh informasi apa pun yang akan memperjelas pandangannya tentang akar suatu situasi, kondisi, dan penyebab masalah tertentu. Dengan demikian, ia ”memperoleh pengetahuan” tentang apa yang harus dilakukan dan mengetahui kesimpulan apa yang harus diambil, apa yang diperlukan untuk mengatasi problem yang sedang dihadapi.—Bdk. Ams 9:9; Pkh 7:25; 8:1; Yeh 28:3; lihat PEMAHAMAN.

Hikmat Ilahi. Allah Yehuwa memiliki hikmat dalam pengertian yang mutlak; Dialah ”satu-satunya pribadi yang berhikmat” dalam pengertian ini. (Rm 16:27; Pny 7:12) Pengetahuan berkaitan erat dengan fakta, dan karena Yehuwa adalah sang Pencipta, yang ada ”dari waktu yang tidak tertentu sampai waktu yang tidak tertentu” (Mz 90:1, 2), Ia mengetahui segala-galanya tentang alam semesta, komposisi serta isinya, sejarahnya hingga sekarang. Hukum, siklus, dan standar fisika yang diandalkan manusia sebagai dasar riset dan penemuan mereka adalah buatan-Nya, dan tanpa semua itu mereka tidak berdaya dan tidak mempunyai dasar yang stabil untuk membangun di atasnya. (Ayb 38:34-38; Mz 104:24; Ams 3:19; Yer 10:12, 13) Logislah apabila standar moral yang Ia tetapkan lebih penting lagi untuk stabilitas, pertimbangan yang tepat, dan kehidupan manusia yang sukses. (Ul 32:4-6; lihat YEHUWA [Allah yang memiliki standar-standar moral].) Tidak ada sesuatu pun yang tidak Ia pahami. (Yes 40:13, 14) Meskipun hal-hal tertentu yang bertentangan dengan standar-standar-Nya yang adil-benar mungkin Ia biarkan berkembang dan bahkan berbuah untuk sementara waktu, hasil akhirnya bergantung pada Dia dan akan berjalan persis seperti kehendak-Nya, dan hal-hal yang dikatakan-Nya ”akan berhasil”.—Yes 55:8-11; 46:9-11.

Mengingat semua alasan itu, jelaslah bahwa ”takut akan Yehuwa adalah permulaan hikmat”. (Ams 9:10) ”Siapa yang tidak takut kepadamu, oh, Raja bangsa-bangsa, sebab bagimu hal itu layak; karena di antara semua orang berhikmat dari bangsa-bangsa dan di antara semua kekuasaan sebagai raja, dalam hal apa pun tidak ada yang seperti engkau.” (Yer 10:7) ”Hatinya bijaksana dan tenaganya kuat. Siapa yang dapat memperlihatkan kedegilan kepadanya dan tidak mendapat celaka?” (Ayb 9:4; Ams 14:16) Apabila Ia menghendaki, dengan keperkasaan-Nya Ia dapat turun tangan dalam urusan-urusan manusia, dengan memanuver para penguasa atau melenyapkan mereka, membuktikan kebenaran penyingkapan-penyingkapan nubuat-Nya. (Dan 2:20-23) Sejarah Alkitab mengisahkan betapa sia-sia upaya para raja yang penuh kuasa beserta para penasihat mereka yang cerdik untuk mengadu hikmat mereka dengan Allah, dengan demikian menonjolkan bagaimana Ia dengan berkemenangan membenarkan hamba-hamba-Nya yang dengan loyal mengumumkan berita-Nya.—Yes 31:2; 44:25-28; bdk. Ayb 12:12, 13.

”Hikmat Allah dalam suatu rahasia suci.” Dengan adanya pemberontakan di Eden, hikmat Allah ditantang. Cara-Nya yang bijaksana untuk mengakhiri pemberontakan—dengan melenyapkan segala dampaknya dan memulihkan kedamaian, keharmonisan, dan ketertiban dalam keluarga universal-Nya—merupakan ”suatu rahasia suci, hikmat yang tersembunyi, yang sudah Allah tetapkan sebelumnya, sebelum sistem-sistem ini”, yaitu sistem-sistem yang telah berkembang selama sejarah manusia di luar Eden. (1Kor 2:7) Garis besarnya terlihat dalam cara Allah berurusan dengan hamba-hamba-Nya yang setia selama berabad-abad, dan janji-janji-Nya kepada mereka; rahasia suci tersebut digambarkan di muka dan dilambangkan dalam perjanjian Hukum dengan Israel, termasuk keimaman dan korban-korbannya, dan dirujuk dalam banyak sekali nubuat dan penglihatan.

Akhirnya, setelah lebih dari 4.000 tahun, hikmat rahasia suci itu disingkapkan dalam diri Yesus Kristus (Kol 1:26-28), yang melaluinya Allah menetapkan ”suatu administrasi pada kesudahan dari waktu yang ditetapkan, yakni untuk mengumpulkan kembali segala perkara dalam Kristus, perkara-perkara di surga dan perkara-perkara di bumi”. (Ef 1:8-11) Persediaan Allah berupa tebusan untuk keselamatan umat manusia yang taat dan maksud-tujuan-Nya untuk mendirikan pemerintahan Kerajaan, yang dikepalai oleh Putra-Nya dan yang dapat mengakhiri semua kejahatan, disingkapkan. Karena maksud-tujuan Allah yang menakjubkan didasarkan dan berpusat pada Putra-Nya, Kristus Yesus ’telah menjadi hikmat yang berasal dari Allah bagi kita [orang Kristen]’. (1Kor 1:30) ”Di dalam dia semua harta hikmat dan harta pengetahuan tersembunyi dengan cermat.” (Kol 2:3) Hanya melalui dia dan dengan beriman kepadanya, yaitu ’Wakil Utama Allah untuk kehidupan’, keselamatan dan kehidupan dapat diperoleh. (Kis 3:15; Yoh 14:6; 2Tim 3:15) Oleh karena itu, hikmat sejati tidak pernah tidak mengakui Yesus Kristus, dan tidak pernah tidak mendasarkan pertimbangan dan keputusannya atas maksud-tujuan Allah yang disingkapkan dalam dia.—Lihat YESUS KRISTUS (Kedudukannya yang Penting dalam Maksud-Tujuan Allah).

Hikmat Manusia. Hikmat dipersonifikasikan dalam buku Amsal, digambarkan sebagai seorang wanita yang mengundang orang-orang untuk menerima apa yang ia tawarkan. Catatan ini dan ayat-ayat yang terkait menunjukkan bahwa hikmat memang adalah perpaduan banyak hal: pengetahuan, pengertian (yang mencakup daya pengamatan), kesanggupan berpikir, pengalaman, kerajinan, kecerdikan (sebaliknya daripada mudah tertipu atau naif [Ams 14:15, 18]), dan penilaian yang tepat. Namun, karena permulaan hikmat sejati adalah takut akan Allah Yehuwa (Mz 111:10; Ams 9:10), hikmat yang unggul ini jauh melebihi hikmat yang umum dan mencakup berpegang pada standar-standar yang luhur, memanifestasikan keadilbenaran dan kelurusan hati, dan juga berpaut pada kebenaran. (Ams 1:2, 3, 20-22; 2:2-11; 6:6; 8:1, 5-12) Tidak semua hikmat setingkat dengan hikmat yang unggul ini.

Hikmat manusia tidak pernah bersifat mutlak, tetapi relatif. Manusia dapat memperoleh hikmat dalam skala terbatas melalui upayanya sendiri, sekalipun ia pasti harus menggunakan kecerdasan yang sejak semula Allah (yang bahkan memberi binatang hikmat naluriah tertentu [Ayb 35:11; Ams 30:24-28]) karuniakan kepada manusia. Manusia belajar dari mengamati dan bekerja dengan hal-hal yang Allah ciptakan. Hikmat demikian bisa saja berbeda-beda jenisnya dan cakupannya. Kata Yunani so·fia sering diterapkan pada keahlian dalam pekerjaan atau keterampilan tertentu, pada kepiawaian dan pertimbangan administratif yang jitu dalam bidang pemerintahan dan bisnis, atau pada pengetahuan yang luas di bidang tertentu dalam sains atau riset tentang manusia. Demikian juga, kata Ibrani khokh·mah dan kha·kham digunakan untuk menggambarkan ’kemahiran’ para pelaut dan pemakal kapal (Yeh 27:8, 9; bdk. Mz 107:23, 27), juga tukang batu dan tukang kayu (1Taw 22:15), maupun hikmat dan keterampilan para perajin lain, yang beberapa di antaranya sangat berbakat dalam berbagai jenis kerajinan tangan. (1Raj 7:14; 2Taw 2:7, 13, 14) Kata-kata semacam itu bahkan digunakan untuk menggambarkan pemahat patung atau pembuat berhala yang terampil. (Yes 40:20; Yer 10:3-9) Kecerdikan dalam dunia bisnis adalah suatu bentuk hikmat.—Yeh 28:4, 5.



Semua jenis hikmat seperti itu dapat dimiliki sekalipun si pemiliknya tidak mempunyai hikmat rohani yang khususnya didukung Alkitab. Meskipun demikian, roh Allah bisa meningkatkan beberapa di antara jenis-jenis hikmat ini apabila itu berguna untuk mencapai maksud-tujuan-Nya. Roh-Nya menggiatkan orang-orang yang membangun tabernakel serta perlengkapannya, dan juga orang-orang yang menenun pakaian imam, pria dan wanita, memenuhi mereka dengan ’hikmat dan pengertian’. Dengan demikian, mereka tidak hanya mengerti apa yang diinginkan dan sarana untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut tetapi juga mempertunjukkan bakat, rasa seni, visi, dan pertimbangan yang dibutuhkan untuk merancang dan menghasilkan karya yang sangat bagus.—Kel 28:3; 31:3-6; 35:10, 25, 26, 31, 35; 36:1, 2, 4, 8.

Pria-pria berhikmat pada zaman dahulu. Seperti halnya pada zaman modern, pada zaman dahulu para raja dan orang-orang lain sangat menghargai pria-pria yang dikenal karena hikmat dan nasihat mereka. Mesir, Persia, Khaldea, Edom, dan bangsa-bangsa lain memiliki badan yang terdiri dari ”pria-pria yang berhikmat”. (Kel 7:11; Est 1:13; Yer 10:7; 50:35; Ob 8) Badan-badan tersebut pastilah mencakup para imam dan pejabat pemerintah, tetapi tidak terbatas pada mereka saja, mungkin juga mencakup semua ’tua-tua’ dari bangsa-bangsa, terutama yang dikenal karena hikmat mereka dan yang tinggal dekat ibu kota sehingga mudah dimintai nasihat. (Bdk. Kej 41:8; Mz 105:17-22; Yes 19:11, 12; Yer 51:57.) Raja-raja Persia mempunyai dewan penasihat pribadi yang terdiri dari tujuh pria berhikmat yang selalu siap dimintai nasihat (Est 1:13-15), dan para pejabat Persia yang lebih rendah bisa jadi secara pribadi memiliki staf orang berhikmat.—Est 6:13.

Dengan bantuan roh Allah, Yusuf mempertunjukkan kebijaksanaan dan hikmat yang begitu menakjubkan sehingga Firaun yang pada waktu itu memerintah Mesir menjadikan dia perdana menterinya. (Kej 41:38-41; Kis 7:9, 10) ”Musa diajar tentang segala hikmat orang Mesir” dan ’penuh kuasa dalam perkataan dan perbuatannya’ bahkan sebelum Allah menjadikan dia juru bicara-Nya. Namun, hikmat dan kesanggupan manusia tidak menjadikan Musa kompeten untuk maksud-tujuan Allah. Setelah upayanya yang pertama (pada usia 40 tahun) untuk membebaskan orang Israel, saudara-saudaranya, Musa harus menunggu 40 tahun lagi sebelum Allah mengutusnya, sebagai orang yang berhikmat secara rohani, untuk memimpin Israel keluar dari Mesir.—Kis 7:22-36; bdk. Ul 34:9.

Salomo sudah berhikmat sebelum berkuasa penuh sebagai raja (1Raj 2:1, 6, 9), tetapi dalam doanya kepada Yehuwa, dengan rendah hati ia mengakui bahwa dirinya ”hanyalah seorang anak kecil” dan mencari bantuan Allah untuk menghakimi umat-Nya. Ia dikaruniai ”hati yang bijaksana dan berpengertian” yang tak tertandingi di kalangan raja-raja Yehuda. (1Raj 3:7-12) Hikmatnya lebih unggul daripada hikmat yang tersohor milik orang-orang Timur dan Mesir, sehingga raja-raja atau wakil-wakil mereka berdatangan ke Yerusalem untuk belajar dari raja Yehuda tersebut. (1Raj 4:29-34; 10:1-9, 23-25) Wanita-wanita tertentu pada zaman dahulu juga terkenal akan hikmat mereka.—2Sam 14:1-20; 20:16-22; bdk. Hak 5:28, 29.

Tidak selalu digunakan untuk kebaikan. Hikmat manusia dapat digunakan untuk kebaikan ataupun kejahatan. Penggunaannya untuk tujuan yang jahat jelas menyingkapkan bahwa hikmat itu semata-mata bersifat daging, bukan rohani, bukan dari Allah. Yehonadab adalah ”orang yang sangat bijaksana”, tetapi nasihatnya kepada Amnon, putra Daud, didasarkan atas siasat licik dan manipulasi atas orang lain melalui tipu daya, sehingga mendatangkan sukses yang diragukan dan akibat-akibat yang sangat buruk. (2Sam 13:1-31) Absalom dengan curang berkampanye untuk menggulingkan Daud, bapaknya, dari takhta (2Sam 14:28-33; 15:1-6) dan, sewaktu menduduki Yerusalem, ia meminta petunjuk dari dua penasihat bapaknya, Ahitofel dan Husyai, tentang siasat licik berikutnya yang bisa ia tempuh. Nasihat-nasihat yang bijaksana dari Ahitofel secara konsisten sangat akurat sehingga seolah-olah datang dari Allah. Meskipun demikian, ia telah mengkhianati orang yang diurapi Allah, dan Yehuwa menyebabkan strategi perangnya yang bagus ditolak, dan sebaliknya yang diterima adalah rencana Husyai yang setia, yang dengan terampil memanfaatkan kepongahan dan kelemahan manusiawi Absalom, untuk menyebabkan kejatuhannya. (2Sam 16:15-23; 17:1-14) Sebagaimana yang Paulus tulis tentang Allah, ”’Ia menangkap orang berhikmat dalam kecerdikan mereka sendiri.’ Dan sekali lagi, ’Yehuwa tahu bahwa pertimbangan orang-orang berhikmat itu sia-sia.’”—1Kor 3:19, 20; bdk. Kel 1:9, 10, 20, 21; Luk 20:19-26.

Para imam, nabi, dan cendekiawan bangsa Israel yang murtad akhirnya menggiring bangsa itu untuk menentang nasihat dan perintah-perintah Allah yang diucapkan oleh hamba-hamba-Nya yang loyal. (Yer 18:18) Akibatnya, Yehuwa menyebabkan ’hikmat orang-orangnya yang berhikmat lenyap, dan pengertian orang-orangnya yang bijaksana bersembunyi’ (Yes 29:13, 14; Yer 8:8, 9), dengan mendatangkan kehancuran atas kerajaan yang berusia 500 tahun itu (sebagaimana yang kemudian Ia lakukan atas pembinasa Yerusalem yang sombong, Babilon, dan atas dinasti Tirus yang suka membual). (Yes 47:10-15; Yeh 28:2-17) Mereka menolak hikmat rohani karena lebih menyukai hikmat yang bersifat daging.

Kesia-siaan banyak hikmat manusia. Sewaktu menyelidiki ”kesibukan yang menyebabkan malapetaka” yang telah ditimpakan kepada umat manusia oleh dosa dan ketidaksempurnaan, Raja Salomo menimbang nilai hikmat yang dikembangkan serta diperoleh manusia pada umumnya dan mendapati hal itu sebagai ”perjuangan mengejar angin”. Kekacauan, penyelewengan, dan berbagai cacat dalam masyarakat manusia yang tidak sempurna begitu jauh di luar kesanggupan manusia untuk membenahi atau mengkompensasikannya, sehingga orang-orang yang ’memperoleh banyak hikmat’ mengalami lebih banyak frustrasi dan kekesalan, jelas karena mereka sepenuhnya menyadari betapa sedikit yang secara pribadi dapat mereka lakukan untuk memperbaiki keadaan.—Pkh 1:13-18; 7:29; bdk. Rm 8:19-22, yang berisi kata-kata sang rasul yang memperlihatkan persediaan Allah untuk memerdekakan umat manusia dari keadaan sebagai budak kefanaan dan dari ketundukan kepada kesia-siaan.

Salomo juga mendapati bahwa meskipun hikmat manusia seperti itu menghasilkan berbagai kesenangan dan kemahiran yang mendatangkan kekayaan materi, hikmat mereka tidak dapat memberikan kebahagiaan sejati atau kepuasan yang langgeng. Orang berhikmat mati bersama orang bebal, tanpa mengetahui apa yang akan terjadi dengan harta miliknya, dan hikmat manusiawinya berakhir di liang kubur. (Pkh 2:3-11, 16, 18-21; 4:4; 9:10; bdk. Mz 49:10.) Bahkan dalam kehidupan, ”waktu dan kejadian yang tidak terduga” bisa dengan tiba-tiba mendatangkan malapetaka sehingga membuat orang-orang berhikmat bahkan tidak mempunyai kebutuhan-kebutuhan pokok seperti makanan. (Pkh 9:11, 12) Dengan hikmatnya sendiri seseorang tidak pernah dapat memahami ”pekerjaan Allah yang benar”, tidak pernah bisa memperoleh pengetahuan yang pasti tentang cara Ia mengatasi problem-problem manusia yang paling rumit.—Pkh 8:16, 17; bdk. Ayb psl. 28.

Salomo tidak mengatakan bahwa hikmat manusia sama sekali tidak ada nilainya. Jika dibandingkan dengan kebodohan, yang juga ia selidiki, keuntungan hikmat atas kebodohan adalah bagaikan keuntungan ’terang atas kegelapan’. Karena mata orang berhikmat ”ada di kepalanya”, membantu kekuatan intelektualnya, sedangkan mata orang bebal melihat tanpa daya pengamatan yang bijaksana. (Pkh 2:12-14; bdk. Ams 17:24; Mat 6:22, 23.) Hikmat adalah perlindungan yang nilainya lebih besar daripada uang. (Pkh 7:11, 12) Tetapi Salomo memperlihatkan bahwa nilai hikmat sangat relatif, sepenuhnya bergantung dari seberapa jauh hal tersebut selaras dengan hikmat dan maksud-tujuan Allah. (Pkh 2:24; 3:11-15, 17; 8:12, 13; 9:1) Seseorang bisa jadi berupaya terlalu keras untuk mempertunjukkan hikmat, memaksa diri di luar batas-batas kesanggupannya yang tidak sempurna sehingga menghancurkan dirinya sendiri. (Pkh 7:16; bdk. 12:12.) Namun, jika ia dengan taat melayani Penciptanya dan berpuas dengan makanan, minuman, dan hal-hal baik yang ia peroleh dari kerja kerasnya, Allah akan memberinya ”hikmat, pengetahuan dan sukacita” yang dibutuhkannya.—Pkh 2:24-26; 12:13.

Dikontraskan dengan rahasia suci Allah. Selama berabad-abad dunia umat manusia telah mengembangkan banyak hikmat—banyak di antaranya diajarkan melalui sekolah-sekolah dan sarana-sarana pengajaran lainnya, sedangkan ada juga yang diperoleh melalui pergaulan pribadi dengan orang lain atau melalui pengalaman. Orang Kristen perlu mengetahui sikap yang tepat terhadap hikmat demikian. Dalam ilustrasi tentang seorang pengurus yang tidak adil-benar yang memanipulasi rekening majikannya sewaktu berurusan dengan para pengutang tertentu agar masa depannya aman, Yesus menggambarkan bahwa pengurus itu telah ”bertindak dengan hikmat yang praktis [fro·nimos, ”dengan bijaksana”]”. Namun, prakiraan yang cerdik ini adalah hikmat praktis yang dimiliki ”putra-putra sistem ini” dan bukan milik ”putra-putra terang”. (Luk 16:1-8, Int) Sebelumnya, Yesus memuji Bapak surgawinya karena menyembunyikan kebenaran-kebenaran tertentu dari ”orang-orang yang berhikmat dan tinggi kecerdasannya” tetapi menyingkapkannya kepada murid-muridnya, yang jika diperbandingkan, adalah bagaikan ”kanak-kanak”. (Luk 10:21-24) Para penulis dan orang-orang Farisi, yang mendapat pendidikan di sekolah-sekolah para rabi, termasuk di antara orang-orang yang berhikmat dan tinggi kecerdasannya.—Bdk. Mat 13:54-57; Yoh 7:15.

Pada abad pertama, orang Yunani khususnya terkenal karena kebudayaan dan banyaknya pengetahuan mereka, sekolah-sekolah dan kelompok-kelompok filsuf mereka. Mungkin, untuk alasan itulah Paulus menyejajarkan ’orang Yunani dan Barbar’ dengan ’orang yang berhikmat dan yang tidak berakal’. (Rm 1:14) Paulus dengan tegas menandaskan kepada orang-orang Kristen di Korintus, Yunani, bahwa Kekristenan tidak bergantung pada maupun bercirikan ”hikmat [so·fian] dunia ini”, yakni dunia umat manusia yang terasing dari Allah. (1Kor 1:20; lihat DUNIA [Dunia yang terasing dari Allah].) Tentu, hal ini tidak berarti bahwa di antara begitu banyak aspek yang beragam dari hikmat dunia tidak ada sesuatu pun yang berguna atau bermanfaat, karena Paulus kadang-kadang menggunakan keterampilan yang dikuasainya dalam membuat tenda dan adakalanya ia juga mengutip karya sastra beberapa pujangga sekuler untuk mengilustrasikan pokok-pokok kebenaran tertentu. (Kis 18:2, 3; 17:28, 29; Tit 1:12) Tetapi pandangan, metode, standar, dan tujuan dunia ini secara umum—falsafahnya—tidaklah sejalan dengan kebenaran, bertentangan dengan ’hikmat Allah dalam rahasia suci itu’.

Jadi, dunia ini dengan hikmatnya menolak persediaan Allah melalui Kristus dan menganggapnya sebagai kebodohan; para penguasanya, sekalipun mereka mungkin adalah administrator yang andal dan bijaksana, mereka bahkan ”memantek Tuan yang mulia”. (1Kor 1:18; 2:7, 8) Namun, sebaliknya Allah kini membuktikan bahwa hikmat orang-orang yang memiliki hikmat duniawi adalah kebodohan; Ia mempermalukan mereka dengan menggunakan apa yang mereka anggap ”hal yang bodoh dari Allah”, juga orang-orang yang mereka anggap ’bodoh, lemah, dan tidak terpandang’, untuk mencapai maksud-tujuan-Nya yang tak dapat digagalkan. (1Kor 1:19-28) Paulus mengingatkan orang-orang Kristen di Korintus bahwa ”hikmat dari sistem ini ataupun hikmat dari para penguasa sistem ini” akan lenyap; oleh karena itu, hikmat demikian tidak menjadi bagian dari hal-hal rohani yang diberitakan sang rasul. (1Kor 2:6, 13) Ia memperingatkan orang-orang Kristen di Kolose agar tidak terjerat oleh ”filsafat [fi·lo·so·fias, harfiah, kesukaan akan hikmat] dan tipu daya kosong menurut ajaran turun-temurun dari manusia”.—Kol 2:8; bdk. ay. 20-23.



Hikmat dunia sudah dapat dipastikan akan gagal, sekalipun ada manfaat dan hasil sementara yang dicapainya. Akan tetapi, sidang orang Kristen yang diurapi Allah memiliki hikmat rohani yang menuntun mereka kepada ”kekayaan Kristus yang tidak terkira”. Karena sidang tersebut merupakan bagian dari rahasia suci Allah, melalui cara-Nya berurusan dengan sidang itu dan melalui maksud-tujuan-Nya yang digenapi di dalamnya, Ia memberitahukan atau menyingkapkan ”hikmat Allah yang sangat beragam” melalui sidang itu, bahkan kepada ”pemerintah-pemerintah dan kalangan berwenang di tempat-tempat surgawi”. (Ef 3:8-11; 1:17, 18; bdk. 1Ptr 1:12.) Karena memiliki ”pikiran Kristus” (bdk. Flp 2:5-8), anggota-anggotanya memiliki pengetahuan dan pengertian yang jauh lebih unggul daripada yang dimiliki dunia ini, karena itu mereka dapat berbicara, ”tidak dengan kata-kata yang diajarkan melalui hikmat manusia, melainkan dengan kata-kata yang diajarkan oleh roh”, dengan ”mulut dan hikmat” yang tidak dapat disanggah oleh para penentang, sekalipun orang-orang Kristen demikian bisa jadi dipandang rendah sebagai ”orang biasa yang tidak terpelajar” menurut standar dunia.—1Kor 2:11-16; Luk 21:15; Kis 4:13; 6:9, 10.

Melancarkan peperangan rohani. Rasul Paulus mengandalkan hikmat ilahi dalam melancarkan peperangan rohani melawan siapa pun yang mengancam hendak menyesatkan sidang-sidang Kristen, seperti yang ada di Korintus. (1Kor 5:6, 7, 13; 2Kor 10:3-6; bdk. 2Kor 6:7.) Ia tahu bahwa ”hikmat lebih baik daripada peralatan tempur, tetapi satu orang berdosa saja dapat membinasakan banyak perkara baik”. (Pkh 9:18; 7:19) Gagasan yang dikemukakannya tentang ”merobohkan perkara-perkara yang dibentengi dengan kuat” (2Kor 10:4) selaras dengan sebagian dari Amsal 21:22, terjemahan Septuaginta Yunani. Paulus mengetahui kecenderungan manusia untuk memberikan perhatian utama kepada orang-orang yang perilakunya mengesankan, bakatnya menonjol, atau kepribadiannya kuat serta tutur katanya penuh kuasa; ia tahu bahwa ’perkataan yang diucapkan dengan tenang oleh orang berhikmat tetapi miskin’ sering diabaikan karena orang-orang yang tampak lebih perkasa lebih disukai. (Bdk. Pkh 9:13-17.) Bahkan Yesus, yang tidak memiliki kekayaan dan kedudukan di bumi seperti yang dimiliki Salomo tetapi yang mempunyai hikmat yang jauh lebih unggul, hanya mendapat sedikit respek dan perhatian dari para penguasa dan bangsa itu.—Bdk. Mat 12:42; 13:54-58; Yes 52:13-15; 53:1-3.

Orang-orang yang lebih membanggakan kecakapan lahiriah (kontraskan dengan Yer 9:23, 24) daripada hati seseorang, menganggap penampilan pribadi Paulus ”lemah dan perkataannya tidak berbobot”. (2Kor 5:12; 10:10) Sekalipun demikian, ia tidak mau menggunakan perkataan yang muluk-muluk atau mempertunjukkan hikmat manusia dan kuasanya untuk meyakinkan, agar iman para pendengarnya dibangun melalui roh dan kuasa Allah dan didasarkan atas Kristus dan bukan atas ”hikmat manusia”. (1Kor 1:17; 2:1-5; 2Kor 5:12) Karena wawasan rohaninya, Paulus adalah ”pengawas pembangunan yang berhikmat”, bukan pembangunan yang bersifat materi tetapi rohani, bekerja bersama Allah untuk menghasilkan murid-murid yang benar-benar memperlihatkan sifat-sifat Kristen.—1Kor 3:9-16.

Oleh karena itu, tidak soal seberapa banyak hikmat duniawi yang dimiliki seseorang berupa keterampilan dalam pekerjaan, kecerdikan dalam perdagangan, kesanggupan administratif, atau pengetahuan dalam bidang sains atau filsafat, prinsipnya adalah, ”Jika seseorang di antara kamu berpikir bahwa ia berhikmat dalam sistem ini, biarlah ia menjadi orang bodoh, agar ia menjadi berhikmat.” (1Kor 3:18) Seharusnya, ia bangga hanya karena ’memiliki pemahaman dan pengetahuan tentang Yehuwa, Pribadi yang menunjukkan kebaikan hati yang penuh kasih, keadilan dan keadilbenaran di bumi’, karena itulah yang Yehuwa senangi.—Yer 9:23, 24; 1Kor 1:31; 3:19-23.

Administrasi yang bijaksana. Personifikasi hikmat menyatakan, ”Aku memiliki nasihat dan hikmat yang praktis. Aku—pengertian; aku memiliki keperkasaan. Olehku para raja terus memerintah, dan para pejabat tinggi terus menetapkan keadilbenaran. Olehku para pembesar terus berkuasa sebagai pembesar, dan para bangsawan semuanya menghakimi dengan keadilbenaran. Aku mengasihi mereka yang mengasihi aku, dan orang-orang yang mencari akulah yang akan menemukan aku.” (Ams 8:12, 14-17) Raja Mesianik mempertunjukkan hikmat ilahi yang unggul seperti itu. (Yes 11:1-5; bdk. Pny 5:12.) Hikmat ini melebihi kesanggupan yang mungkin dapat dimiliki atau dikembangkan secara alami oleh manusia, menjadikan seseorang berhikmat dalam prinsip-prinsip hukum Allah dan, dengan bantuan roh-Nya, memungkinkan dibuatnya keputusan-keputusan hukum yang benar dan tidak berat sebelah. (Ezr 7:25; 1Raj 3:28; Ams 24:23; bdk. Ul 16:18, 19; Yak 2:1-9.) Hikmat seperti itu tidak masa bodoh terhadap kefasikan tetapi memeranginya.—Ams 20:26.

Pria-pria yang dipilih untuk memikul tanggung jawab di sidang Kristen memenuhi syarat, bukan atas dasar kesuksesan duniawi, hikmat yang bersifat daging, atau kecakapan alami, melainkan karena ”penuh dengan roh dan hikmat [ilahi]”. (Kis 6:1-5; bdk. 1Tim 3:1-13; Tit 1:5-9.) Mereka ini ada di antara ”nabi-nabi dan orang-orang berhikmat dan instruktur-instruktur untuk masyarakat” yang Yesus janjikan akan ia utus, dan mereka juga dapat menjadi hakim dan penasihat di dalam sidang, sebagaimana bangsa Israel jasmani memiliki orang-orang berhikmat yang melayani dengan cara yang serupa. (Mat 23:34; 1Kor 6:5) Mereka mengakui bahwa berunding bersama besar nilainya.—Ams 13:10; 24:5, 6; bdk. Kis 15:1-22.

Memperoleh Hikmat Sejati. Ada peribahasa yang menasihati, ”Belilah kebenaran dan jangan menjualnya—hikmat dan disiplin serta pengertian.” (Ams 23:23) Yehuwa, Sumber hikmat sejati, dengan murah hati mengaruniakan hikmat kepada orang-orang yang dengan tulus mencarinya dan memintanya dengan iman, dengan menunjukkan rasa takut yang sehat dan penuh hormat kepada-Nya. (Ams 2:1-7; Yak 1:5-8) Namun, orang yang mencari hikmat itu harus menggunakan waktu untuk mempelajari Firman Allah; mempelajari perintah, hukum, pengingat, dan nasihat-Nya; memperhatikan sejarah tentang tindakan dan perbuatan Allah; kemudian menerapkan semua ini dalam kehidupannya. (Ul 4:5, 6; Mz 19:7; 107:43; 119:98-101; Ams 10:8; bdk. 2Tim 3:15-17.) Ia dengan bijaksana membeli semua waktu yang ada, tidak bertindak secara tidak masuk akal pada masa yang fasik, tetapi ’memahami apa kehendak Yehuwa’. (Ef 5:15-20; Kol 4:5, 6) Ia harus mengembangkan iman yang teguh dan keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa kuasa Allah tidak terkalahkan, bahwa kehendak-Nya pasti terjadi, dan bahwa kesanggupan serta janji-Nya untuk memberikan upah kepada orang yang setia adalah pasti.—Ibr 11:1, 6; 1Kor 15:13, 14, 19.

Hanya dengan cara inilah orang tersebut dapat membuat keputusan yang benar sehubungan dengan haluan kehidupannya dan tidak digoyahkan oleh rasa takut, ketamakan, hasrat yang amoral, dan emosi-emosi lainnya yang merusak. (Ams 2:6-16; 3:21-26; Yes 33:2, 6) Personifikasi hikmat mengatakan, ”Berbahagialah orang yang mendengarkan aku dengan terus sadar di pintu-pintuku dari hari ke hari, dengan berjaga pada tiang-tiang pintu masukku. Karena orang yang menemukan aku pasti akan menemukan kehidupan, dan memperoleh perkenan dari Yehuwa. Tetapi orang yang tidak mendapatkan aku melakukan kekerasan kepada jiwanya; semua orang yang amat membenci aku adalah mereka yang memang mengasihi kematian.”—Ams 8:34-36; 13:14; 24:13, 14.

Hikmat dan hati. Memang, kecerdasan adalah faktor utama hikmat, tetapi hati, yang tidak hanya berkaitan dengan cara berpikir tetapi juga motivasi dan kasih sayang, jelas adalah faktor yang lebih penting untuk memperoleh hikmat yang sejati. (Mz 49:3, 4; Ams 14:33; lihat JANTUNG.) Hamba Allah ingin mendapatkan ”hikmat semata” dalam ’dirinya’, memiliki motivasi yang bijaksana dalam merencanakan haluan kehidupannya. (Bdk. Mz 51:6, 10; 90:12.) ”Hati orang berhikmat menuju ke kanan [yaitu, siap membantu dan melindungi dia pada saat-saat kritis (bdk. Mz 16:8; 109:31)], tetapi hati orang bebal ke kiri [tidak dapat mengarahkan dia ke haluan yang bijaksana].” (Pkh 10:2, 3; bdk. Ams 17:16; Rm 1:21, 22.) Orang yang benar-benar berhikmat telah melatih dan mendisiplin hatinya menurut jalan hikmat (Ams 23:15, 16, 19; 28:26); seakan-akan ia telah menuliskan perintah-perintah serta hukum yang adil-benar ’pada lempeng hatinya’.—Ams 7:1-3; 2:2, 10.

Pengalaman dan pergaulan yang baik. Pengalaman banyak menyumbang kepada hikmat. Bahkan Yesus bertambah hikmatnya sewaktu ia melewati masa kanak-kanak. (Luk 2:52) Musa mengangkat pria-pria yang ”berhikmat, bijaksana, dan berpengalaman” untuk menjadi pemimpin. (Ul 1:13-15) Meskipun seseorang memperoleh hikmat hingga taraf tertentu sewaktu menjalani hukuman atau dengan mengamati orang lain yang mendapat hukuman (Ams 21:11), cara yang lebih unggul dan menghemat waktu untuk memperoleh hikmat ialah dengan mengambil manfaat dan belajar dari pengalaman orang-orang yang sudah berhikmat, dengan memilih bergaul bersama mereka daripada bersama ”orang-orang yang kurang berpengalaman”. (Ams 9:1-6; 13:20; 22:17, 18; bdk. 2Taw 9:7.) Kemungkinan besar, orang-orang yang lebih tualah yang mempunyai hikmat demikian, terutama orang-orang yang terbukti memiliki roh Allah. (Ayb 32:7-9) Hal ini khususnya ditunjukkan pada waktu Rehoboam menjadi raja. (1Raj 12:5-16) Namun, ”lebih baik anak yang kekurangan tetapi berhikmat [secara relatif] daripada seorang raja yang sudah tua tetapi bebal, yang tidak mau diberi peringatan lagi”.—Pkh 4:13-15.

Gerbang-gerbang kota (sering kali di dekat lapangan) adalah tempat para tua-tua memberikan nasihat yang bijaksana dan keputusan hukum. (Bdk. Ams 1:20, 21; 8:1-3.) Suara orang-orang bodoh biasanya tidak terdengar dalam lingkungan seperti itu (baik untuk meminta ataupun memberikan hikmat); mereka mengobrol di tempat lain. (Ams 24:7) Meskipun pergaulan dengan orang-orang berhikmat mendatangkan disiplin dan kadang-kadang hardikan, hal ini jauh lebih baik daripada nyanyian dan gelak tawa orang bebal. (Pkh 7:5, 6) Orang yang mengasingkan diri, mengejar pandangan hidupnya sendiri yang picik dan sempit serta hasrat-hasrat yang mementingkan diri, akhirnya menyimpang dan menempuh haluan yang bertentangan dengan semua hikmat praktis.—Ams 18:1.

Nyata dalam tingkah laku dan tutur kata seseorang. Amsal 11:2 menyatakan bahwa ”hikmat ada pada orang-orang yang bersahaja”; Yakobus berbicara tentang ”kelemahlembutan yang berkaitan dengan hikmat”. (Yak 3:13) Jika terdapat kecemburuan, sifat suka bertengkar, sifat suka membual, atau kedegilan dalam diri seseorang, hal itu menunjukkan bahwa ia tidak memiliki hikmat yang sejati, tetapi sebaliknya dibimbing oleh hikmat yang ”bumiah, bersifat binatang, berkaitan dengan hantu-hantu”. Hikmat sejati itu ”suka damai, bersikap masuk akal, siap untuk taat”. (Yak 3:13-18) ”Tongkat keangkuhan ada dalam mulut orang bodoh, tetapi orang-orang berhikmat akan dijaga oleh bibir mereka.” Dengan bijaksana mereka menahan diri agar tidak lancang, kasar, atau berbicara dengan gegabah. (Ams 14:3; 17:27, 28; Pkh 10:12-14) Lidah dan bibir orang berhikmat menghasilkan kata-kata yang penuh pertimbangan, bersifat menyembuhkan, menyenangkan, bermanfaat (Ams 12:18; 16:21; Pkh 12:9-11; Kol 3:15, 16), dan tidak menimbulkan masalah, tetapi menenangkan dan ”memenangkan jiwa” melalui persuasi yang bijaksana.—Ams 11:30; 15:1-7; 16:21-23; 29:8.

Orang-orang yang ”berhikmat di matanya sendiri”, yang meninggikan diri di atas orang lain (bahkan di atas Allah), lebih buruk daripada orang yang bebal tetapi tidak berpura-pura pintar. (Ams 26:5, 12; 12:15) Orang congkak seperti itu terlalu sombong untuk menerima koreksi. (Ams 3:7; 15:12; Yes 5:20, 21) Anehnya, orang malas dan juga orang yang memiliki kekayaan cenderung mempunyai sikap tersebut. (Ams 26:16; 28:11; bdk. 1Tim 6:17.) Tetapi ”seperti anting-anting emas, dan perhiasan emas yang istimewa, begitulah penegur yang berhikmat bagi telinga yang mendengar” (Ams 25:12); ya, ”berikanlah teguran kepada orang berhikmat dan dia akan mengasihi engkau”.—Ams 9:8; 15:31-33.

Hikmat dalam keluarga. Hikmat membangun rumah tangga, bukan hanya membangun sebuah rumah, tetapi keluarga dan kehidupan keluarga yang sukses sebagai suatu kesatuan. (Ams 24:3, 4; bdk. Ams 3:19, 20; Mz 104:5-24.) Orang tua yang berhikmat tidak menahan tongkat dan teguran, tetapi dengan disiplin dan nasihat mereka melindungi anak-anak mereka terhadap pelanggaran. (Ams 29:15) Istri yang berhikmat sangat berperan untuk mewujudkan kesuksesan dan kebahagiaan keluarga. (Ams 14:1; 31:26) Anak-anak yang dengan bijaksana tunduk kepada disiplin orang tua mendatangkan sukacita dan hormat kepada keluarga mereka, dengan menjunjung nama baik keluarga agar tidak difitnah atau dituduh, dan memberikan bukti kepada orang lain tentang hikmat serta pelatihan ayah mereka.—Ams 10:1; 13:1; 15:20; 23:24, 25; 27:11.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar